Palu 20 Mei 2026
Semuanya dimulai dari pagi yang biasa — atau seharusnya begitu.
Rabu, 13 Mei. Mata baru terbuka, dan kaki kanan langsung protes. Bukan nyeri yang dramatis, tapi semacam isyarat aneh — lutut terasa tidak pada tempatnya, seperti ada sesuatu yang bergeser semalam tanpa izin. Salah tidur, mungkin. Atau mungkin ini tagihan dari gaya hidup yang selama ini kubiarkan menumpuk tanpa kubayar.
Yang tidak kuduga, hari itu aku harus turun-naik tangga berkali-kali ke lantai satu — ada laptop rekan kantor yang bermasalah, error karena koneksi wifi ke MaxHub yang tidak beres. Tidak ada pilihan lain. Kaki sakit, tangga tetap harus ditaklukkan.
-------
Malamnya, alih-alih istirahat, aku malah ikut persiapan camping.
Besoknya, aku ikut campingnya juga.
Bukan nekad tanpa alasan — ini campervan, pikirku, paling cuma jalan sedikit. Dan memang benar, di hari pertama kondisi masih bisa dikondisikan. Sakit ada, tapi tertutup oleh tawa dan kehangatan berkumpul bersama orang-orang yang dekat. Ada sesuatu yang menyembuhkan dari kebersamaan itu, meski tubuh tidak benar-benar setuju.
Tapi tubuh selalu punya cara sendiri untuk menagih paksa.
Pagi hari kedua, saat aku mencoba bangkit dari posisi duduk — nyerinya luar biasa. Lutut kanan seperti diprotes keras, seolah semalam ia sudah menahan cukup dan pagi ini ia menolak untuk berpura-pura baik-baik saja. Setiap perpindahan dari duduk ke berdiri terasa seperti negosiasi yang menyakitkan.
Camping itu tetap kusyukuri. Berkumpul dengan teman-teman dekat adalah bentuk liburan yang sesungguhnya. Tapi ada bagian dari diriku yang tidak bisa hadir penuh — tertinggal di suatu tempat antara rasa sakit dan usaha untuk tetap menikmati.
-------
Pulang dari camping, setelah diskusi panjang dengan rekan kantor, aku akhirnya memutuskan: periksa ke RS, sore itu juga.
Langsung IGD.
Rontgen. Menunggu. Dan — alhamdulillah — tulang lutut tidak ada masalah. Tidak ada yang retak, tidak ada yang bergeser. Tapi ada pembengkakan, dan nyeri saat menekuk lutut yang cukup mengganggu untuk diabaikan. Dokter sebenarnya sudah memperbolehkan pulang, tapi setelah diskusi lagi, aku memilih untuk dirawat. Alasannya sederhana: Senin ada perjalanan dinas luar kota, dan aku tidak mau berangkat dalam kondisi setengah-setengah.
------
Senin dini hari. Pesawat jam dua pagi.
Aku baru keluar dari RS Minggu sore. Packing singkat, tergesa. Sekitar jam delapan atau sembilan malam, aku dan seorang rekan sudah duduk di dalam Grab menuju bandara, membawa koper dan badan yang belum sepenuhnya pulih.
Di bandara, kami menunggu lama. Ruang tunggu yang tidak nyaman untuk tidur — kursinya terlalu tegak, sinarnya terlalu terang, dan pikiranku terlalu ramai. Aku mencoba memejamkan mata. Tidak berhasil.
Jam dua, boarding.
Di dalam pesawat yang dingin, aku baru sadar bahwa memakai celana pendek adalah keputusan yang keliru. Flu datang tanpa diundang — ingus mengalir pelan tapi konsisten, dan mata kanan mulai mengeluarkan air mata sendiri, bukan karena sedih, tapi karena tubuhku rupanya sedang menangis dengan caranya sendiri. Kaki masih sakit. Tidur tidak datang.
Aku tiba di Palu pagi hari, sekitar jam enam, dengan kantuk yang menempel seperti kerak.
------
Hotel belum bisa early check-in. Kami menunggu di smoking area kafe lantai satu sampai jam dua belas siang — aku yang tidak merokok, duduk di sana dengan ingus meler, kaki lelah, dan ekspresi seseorang yang sudah menyerah pada keadaan tapi belum menyerah pada hari.
Jam dua belas, kamar akhirnya bisa ditempati.
Tapi istirahat hanya sebentar. Jam setengah dua, kami sudah harus berangkat ke lokasi mitra — ada acara pembukaan, agenda empat hari ke depan dimulai. Tubuh belum sempat benar-benar berhenti.
-------
Sekarang sudah hari Rabu, 20 Mei. Hari ketiga di Palu.
Kaki sudah mendingan. Flu pun berkurang.
Aku menulis ini dengan rasa syukur yang sederhana — bukan syukur yang besar-besaran, tapi yang pelan dan tulus. Syukur karena tulang tidak ada yang retak. Syukur karena bisa tetap berangkat. Syukur karena tubuh, meskipun sering diabaikan, punya kemampuan luar biasa untuk pulih — asal diberi kesempatan.
Mudah-mudahan ke depannya makin membaik.
Aamiin.